Indonesia, POS WARGA - Fenomena kemunculan titik api misterius di rumah warga Kalurahan Margomulyo, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, masih terus terjadi hingga hari keenam sejak pertama kali muncul. Meski septic tank yang diduga menjadi sumber masalah telah dibongkar, api masih muncul secara acak di berbagai sudut rumah milik Agus Yani tersebut.
Berdasarkan catatan warga, sudah terjadi 39 kali kebakaran kecil terjadi di dalam rumah berlantai dua itu. Api muncul tiba-tiba dan membakar benda-benda di sekitarnya, mulai dari handuk, kasur, sofa hingga perabot rumah tangga lainnya.
Peristiwa terbaru terjadi pada Rabu (27/5/2026) sekitar pukul 23.00 WIB. Api kembali muncul dan membakar sebuah handuk merah yang digantung di gagang pintu kamar tengah. Kondisi tersebut membuat penghuni rumah terus waspada dan berjaga setiap malam.
Menanggapi fenomena tersebut, Kepala Dinas PUPESDM DIY, Anna Rina Herbranti, menyebut secara geologi wilayah Seyegan tidak memiliki karakteristik yang mendukung adanya potensi gas alam bawah permukaan. "Wilayah Seyegan dan sekitarnya didominasi oleh Endapan Merapi Muda berupa pasir vulkanik, tuf, abu vulkanik, breksi, dan sedimen aluvial hasil aktivitas Gunung Merapi. Litologi vulkanik muda tersebut pada umumnya berupa material lepasan dan tidak memiliki kemampuan menjadi batuan sumber maupun perangkap hidrokarbon yang dibutuhkan dalam sistem hidrokarbon," katanya saat dikonfirmasi wartawan, Jumat (29/5/2026).
Ia menjelaskan, berdasarkan kondisi struktur geologi regional, kawasan Seyegan juga tidak dikenal memiliki struktur geologi utama seperti sesar aktif, lipatan, maupun cekungan sedimen yang berpotensi membentuk sistem akumulasi gas bawah permukaan. "Dengan demikian, secara geologi regional wilayah tersebut tidak menunjukkan karakteristik yang mendukung adanya potensi gas alam," ujarnya.
Meski demikian, Anna mengatakan fenomena munculnya titik api sporadis dapat dipengaruhi berbagai faktor, baik lingkungan, keberadaan material mudah terbakar, kemungkinan akumulasi gas organik dalam skala lokal, maupun faktor teknis non-geologi. "Menurut pengamatan di lapangan adanya akumulasi gas metana dari septic tank," katanya.
Ia menjelaskan, kondisi tanah di Seyegan yang didominasi endapan vulkanik muda seperti pasir, lempung, dan abu vulkanik bersifat porous sehingga memungkinkan gas dari septic tank merembes ke permukaan melalui pori-pori tanah maupun rekahan kecil. Jika ada rekahan kecil atau lapisan urug yang kurang padat, Anna menyebut gas lebih mudah naik ke permukaan.
Saat ini, Dinas PUP ESDM DIY masih terus melakukan pemantauan bersama BPBD Sleman dan PLN. Berdasarkan pemantauan terbaru, masih terdapat dua titik api yang muncul di lokasi tersebut.
"Dinas PUP ESDM DIY secara terus menerus melakukan pemantauan dan koordinasi dengan BPBD Sleman dan PLN. Hari ini terdapat dua titik api yang masih muncul," katanya.
Rencananya, tim gabungan dari DPUP ESDM DIY, UPN Veteran Yogyakarta, BPBD Sleman, dan PLN UP3 Sleman akan kembali melakukan penanganan di lokasi kejadian.
Pemilik Rumah Heran
Warga Padukuhan Mriyan X, Kalurahan Margomulyo, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman, dibuat geger dengan kemunculan api misterius yang berulang kali membakar perabotan di salah satu rumah warga. Dalam kurun waktu 26 jam, kebakaran disebut terjadi hingga 11 kali di titik berbeda di dalam rumah.
Peristiwa tersebut terjadi di rumah milik Hinggil Muftiana. Api muncul secara tiba-tiba tanpa diketahui sumbernya dan membakar sejumlah barang mudah terbakar di dalam rumah. Kondisi itu membuat penghuni rumah ketakutan hingga memilih mengungsi sementara.
"Nggak tahu sumber apinya dari mana. Tiba-tiba muncul tetesan api dari beberapa barang di rumah, padahal tidak ada yang merokok maupun korsleting listrik," kata Hinggil kepada wartawan, Ahad (24/5/2026).
Hinggil menyampaikan, kebakaran pertama kali diketahui pada Sabtu (23/5/2026) malam sekitar pukul 00.00 WIB. Saat itu, api membakar kain dan kemudian merembet ke bagian kusen pintu. Meski sempat dipadamkan, api kembali muncul di lokasi berbeda dan membakar barang lainnya.
Ia mengatakan, rentetan kebakaran terus terjadi hingga Ahad siang. Kobaran api bahkan sempat membakar eternit rumah pada salah satu kejadian terbesar.
Hinggil mengaku bingung dengan asal-usul api yang muncul tanpa tanda-tanda. Menurutnya, tidak ada percikan maupun suara ledakan sebelum kebakaran terjadi.
"Tiba-tiba aja kebakar," ucapnya.
Selain kebakaran berulang, penghuni rumah juga mencium aroma menyengat menyerupai alkohol dan gas di beberapa ruangan. Bau tersebut bahkan membuat penghuni merasa pusing saat berada di dalam rumah.
Akibat kejadian itu, delapan anggota keluarga termasuk seorang balita berusia dua tahun memilih mengungsi demi keselamatan. Selama hampir tiga hari terakhir, keluarga mengaku tidak bisa tidur nyenyak karena khawatir api kembali muncul.
Hingga kini, penyebab pasti kemunculan api masih dalam penyelidikan aparat kepolisian. Polisi telah memeriksa lokasi kejadian serta meminta keterangan dari pemilik rumah dan warga sekitar. Berdasarkan hasil penyelidikan awal, api diduga berasal dari kebocoran gas metana dari septic tank di sekitar rumah.