GUNUNGKIDUL, POSWARGA.COM – Suara burung betet mengoceh saling bersahutan ketika kedatangan rombongan pengunjung yang hendak menyusuri Gua Song Gilap, Senin (1/9/2026), siang. Seakan-akan burung tersebut menyambut kehadiran tamu di tempat tinggalnya.
Kawasan di luar Gua Song Gilap ini memang daerah konservasi alam. Di sana merupakan habitat satwa dilindungi, di antaranya burung betet, glatik, jalak kebo, dan alap-alap Jawa.
Gua Song Gilap berlokasi di Pedukuhan Klumpit, Desa Kenteng, Kapanewon Ponjong, Kabupaten Gunungkidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Di dasar gua ini ada sungai bawah tanah yang jernih dan menjadi sumber kehidupan masyarakat setempat, yang airnya tidak pernah kering.
“Air di sungai ini sejak dahulu merupakan sumber air yang dipakai warga. Semua warga di desa ini kalau membutuhkan air mengambil dari gua ini,” kata pendamping penyusur gua yang juga Ulu-Ulu Desa Kenteng, Heri Pranowo.
Kala itu Heri mendampingi penyusur gua dari Tim Villa Satu Indonesia. Kebetulan villa ini berlokasi di Desa Kenteng. Mereka punya rencana berkolaborasi untuk menawarkan Gua Song Gilap kepada wisatawan sebagai bagian dari paket wisata yang menginap di Villa Satu Indonesia.
Gua Song Gilap lokasinya tidak jauh dari Kantor Kelurahan Kenteng. Kalau dari Kota Wonosari Gunungkidul, membutuhkan perjalanan sekitar 30 menit. Menuju lokasi gua jalannya juga sudah beraspal, dan ada jalan cor. Sehingga sangat nyaman apabila wisatawan berkunjung ke tempat itu.
Sampai di lokasi, wisatawan akan disuguhi pemandangan alam pedesaan khas Gunungkidul. Lahan pertanian yang membentang dan Kawasan perbukitan batu yang menghiasi Kawasan Desa Kenteng. Kita pun akan berjumpa warga setempat yang ramah-ramah.
Menurut catatan, Gua Song Gilap ditemukan oleh warga Pedukuhan Klumpit bernama Budiyono. Kala itu dia sedang mencari rumput untuk pakan ternak. Ketika berada di mulut gua, secara tak sengaja dia mendengar gemericik air. Ketika mendekat, ada sungai di bawah gua yang sangat jernih. Sejak itu, gua tersebut menjadi tempat warga mengambil air untuk kebutuhan sehari-hari.
Pada 1984, saat BJ Habibie menjabat Menteri Riset dan Teknologi, dibangun sistem PDAM yang memanfaatkan sumber air Gua Song Gilap. Momentum tersebut menjadi tonggak sejarah penting dalam upaya pemerintah memberikan layanan sumber air bersih bagi masyarakat sekitar.
“Sampai hari ini masyarakat Desa Kenteng masih memanfaatkan air Gua Song Gilap. Kami selalu menjaganya. Dan, saat ini kami berharap gua ini dikenal masyarakat agar banyak pengunjungnya. Gua ini merupakan destinasi wisata minat khusus,” kata Heri.
Bagi wisatawan yang berkunjung dan berminat menyusuri gua, saat ini juga sudah ada tim pendamping dari pengurus Desa Wisata. Memasuki gua ini sudah ada fasilitas tangga yang memadai. Penyusur gua harus menyiapkan bekal, seperti air minum karena perjalanannya cukup Panjang sekitar lebih kurang 1 kilometer untuk menikmati keindahan alam gua berupa stalaktit dan stalagmit.
Lebih baik memakai pakaian yang longgar dan warna cerah karena kondisi gua gelap. Jangan lupa membawa senter atau alat penerang lain dan persiapkan jangan sampai kehabisan baterai. Pakai sepatu boots karena jalur penuh lumpur dan bebatuan khas gua.
“Sudah banyak yang datang ke gua ini. Bahkan, wisatawan asing pun pernah menyusuri gua ini. Tetapi memang tingkat pengunjungnya masih kalah dengan beberapa gua lain yang terkenal di Gunungkidul, semisal Gua Pindul. Padahal keindahan di dalam gua ini tidak kalah menariknya,” kata Ketua Desa Wisata Kenteng, Samiyo.
Dia mengingatkan agar pengunjung selalu hati-hati dan pakai pelindung kepala. “Saya pernah hampir ketimpa batu yang jatuh karena aktivitas kera liar. Saya beruntung batu tidak kena kepala. Hampir saja karena jatuh persis di samping saya duduk,” ujarnya.
Samiyo berharap Gua Song Gilap menjadi tujuan wisatawan sehingga berdampak baik untuk perekonomian warga sekitar. “Kami sudah berupaya mempromosikan Gua Song Gilap. Tetapi memang masih perlu untuk didorong kencang agar promosinya berdampak menghadirkan wisatawan yang berkunjung.”
Lurah Kenteng, Citra Wijaya, mengungkapkan, dirinya berharap desanya menjadi tujuan wisatawan. Terutama terkait keberadaan Gua Song Gilap. “Kami ingin bisa berkolaborasi dengan Villa Satu Indonesia agar bisa mengangkat potensi lokal, khususnya Gua Song Gilap sebagai tujuan wisata yang bisa berdampak positif bagi perekonomian warga,” katanya.
Founder Villa Satu Indonesia, Deni Fuadi, mengungkapkan, dirinya tertarik dengan Gua Song Gilap. Dia pun mengajak tim menyusuri gua tersebut untuk melihat pemandangan alam gua. Hal itu perlu dia lakukan untuk menakar potensi gua, apakah ke depan bisa berkolaborasi dengan Pemerintah Desa Kenteng.
“Perjalanan penyusuran Gua Song Gilap sangat luar biasa. Pemandangan di dalam gua sangat bagus. Ini bisa menjadi tujuan wisata bagi siapa saja yang ingin menikmati keindahan gua,” katanya. (sulex)