Walkot Yogya Ajak Anak Muda agar Financial Freedom Sebelum 50 Tahun
Gerak Bareng

Walkot Yogya Ajak Anak Muda agar Financial Freedom Sebelum 50 Tahun

Ilham Wahyudin

Ilham Wahyudin

Warga

Iyam

Selasa, 30 Juni 2026
43 dilihat
2 menit baca

Indonesia, POS WARGA - Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo mengajak generasi muda, khususnya mahasiswa, mulai merancang masa depan dengan menargetkan kebebasan finansial (financial freedom) sebelum memasuki usia 50 tahun. Menurutnya, kemandirian ekonomi menjadi bekal penting menghadapi tantangan masa depan, terlebih Daerah Istimewa Yogyakarta kini mulai memasuki fase aging population atau penuaan penduduk.

Hasto mengatakan, kebebasan finansial bukan berarti seseorang harus memiliki harta melimpah, melainkan mempunyai sumber pendapatan pasif yang mampu memenuhi kebutuhan hidup tanpa sepenuhnya bergantung pada pekerjaan aktif. "Sebelum usia 50 tahun itu sudah bebas finansial. Sudah tidak memikirkan lagi untuk makan hari ini, besok, atau lusa. Semua itu seharusnya sudah selesai," ujarnya saat menjadi pembicara dalam Seminar Career Development bertajuk The Professional Compass: Navigating Mental Wellness and Career Survival di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).

Hasto menyebut, target tersebut semakin relevan karena DIY mulai menghadapi tantangan demografi berupa meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia. Apabila generasi muda tidak mempersiapkan kemandirian finansial sejak dini, kondisi itu dikhawatirkan dapat memengaruhi pertumbuhan ekonomi di masa mendatang.

Selain mengingatkan pentingnya kebebasan finansial, Hasto juga menekankan kesuksesan di dunia kerja saat ini tidak lagi hanya ditentukan kemampuan akademik atau hard skill. Justru, kemampuan berkomunikasi, beradaptasi, membangun relasi, hingga memiliki empati menjadi faktor yang lebih dominan dalam menentukan keberhasilan karier. 

Selama menempuh pendidikan di perguruan tinggi, mahasiswa umumnya memperoleh sekitar 90 persen hard skill dan hanya 10 persen soft skill. Namun ketika memasuki dunia kerja, kondisinya justru berbalik.

,Meski demikian, Hasto mengingatkan, kemampuan interpersonal tetap harus dibangun di atas kompetensi teknis yang kuat. Menurutnya, soft skill tanpa bekal ilmu yang memadai dapat menyesatkan, sementara hard skill yang tinggi tanpa kemampuan berkomunikasi juga sulit memberikan dampak maksimal di dunia profesional.

"Soft skill yang terlalu bagus tetapi tidak didasari hard skill dan ilmu yang cukup itu menyesatkan. Sebaliknya, hard skill yang bagus tanpa disertai soft skill yang baik ternyata juga tidak banyak dipakai di masyarakat," ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Hasto juga mendorong mahasiswa untuk berani memiliki mimpi besar dan keluar dari zona nyaman. Ia memperkenalkan konsep creative tension, yakni menjadikan kesenjangan antara kondisi saat ini dengan cita-cita sebagai motivasi untuk terus berkembang.

"Milikilah angan-angan atau mimpi yang besar. Jangan hanya memilih jalan yang mudah. Kalau bisa mengerjakan hal yang lebih sulit, lakukanlah," pesannya.



QRIS

Apresiasi Karya Warga

Dukung langsung karya tulisan dari Ilham Wahyudin.